Artikel

INTROSPEKSI DIRI (MUHASABATU NAFS)

31 Desember 2025 Humas SMK Cokroamioto 2
INTROSPEKSI DIRI (MUHASABATU NAFS)

 Refleksi diri menjalani kehidupan lebih Gemilang

Oleh : Arie Yanto Nur Iman, S.Psi

Segala puja dan puji hanya milik Allah SWT sang pencipta seluruh alam semesta, semoga kita senantiasa dalam lindungan dan hidayahNya. Solawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, tauladan dan pencerah bagi seluruh manusia. Tanpa terasa kita telah memasuki tahun baru yaitu 2026, hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun sudah kita lalui menjalani kehidupan yang Allah amanahkan kepada kita. Namun dibalik itu semua apakah kita menyadari seberapa banyak, seberapa besar kebaikan-kebaikan yang sudah kita lakukan kemudian kita tebarkan untuk memberikan manfaat kepada orang-orang disekeliling kita. Ataukah keburukan-keburukan yang justru kita perbuat sehingga terasa dampak negatif untuk diri sendiri atau terhadap orang lain.

Tiada kata terlambat bagi kita untuk selalu interopeksi diri (muhasabatu nafs) agar kedepan  mampu menjalankan kehidupan yang lebik baik dan menyongsong masa depan yang gemilang. Bahkan Allah dalam firmanNya “ Katakanlah, “wahai hamba-hambaKU yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha pengampun, Maha Penyayang”, (QS : Az-Zumar : 53). Intropeksi diri atau Muhasabah diri dalam pandangan islam adalah suatu perbuatan yang sangat dianjurkan bahkan bagi orang yang taat beragama adalah wajib. Intropeksi diri tidak hanya dilakukan setiap bulan atau bahkan tahun, namun untuk selalu mawas diri setiap hari dengan apa yang kita lakukan, kita perbuat. Mengapa demikian? Karena setiapa apa yang kita telah perbuat di Dunia, kelak di hari akhir akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui muhasabah diri merujuk pada al Qur’an :

1.    Menjadikan Intropeksi Diri sebagai Kebiasaan dalam Kehidupan.

Langkah pertama untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah membiasakan diri melakukan mawas diri atau intropeksi diri. Tidak hanya diakhir tahun, intropeksi yang  dihlakukan secara rutin di setiap fase kehidupan sangatlah penting. Allah Ta’ala berfirman : QS Surat al-Hasyr : 18. 

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

 

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Al-Ḥasyr [59]:18)

Dalam ayat tersebut, Allah SWT dengan tegas menganjurkan umat manusia untuk senantiasa memperhatikan setiap langkah dan perbuatan mereka selama hidup di dunia. Sebab, perbuatan tersebut kelak akan dihisab di hari akhir.

  • Bekerja dengan Giat, Semangat, dan Mengharap Ridlo Allah.

Langkah kedua yang dapat dilakukan setelah membiasakan diri melakukan interopeksi adalah bekerja dengan giat dan penuh semangat dan senantiasa selalu mengharap ridlo allah SWT. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan niat untuk mengharapkan ridlo Allah akan bernilai sebagai ibadah di sisi Allah Ta'ala. Allah berfirman dalam QS At-Ataubah : 105

 وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Katakanlah (Nabi Muhammad), Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan. (At-Taubah [9]:105)

  • Tidak Berputus Asa dari Rahmat Allah

Langkah berikutnya yang tidak kalah penting dalam upaya menjadi pribadi yang lebih baik adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT ketika menghadapi kegagalan. Sikap ini merupakan bagian yang sangat penting dari dua langkah sebelumnya. Sebab, kedua langkah tersebut tidak akan berhasil jika seseorang menyerah dan kehilangan harapan saat mengalami kegagalan (dari perbuatan dosa yang besar, kemakasiatan, kehinaan, kerapuhan dan lainnya). Mengenai hal ini Allah Ta'ala berfirman : QS Az-Zumar : 53.

  قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah (Nabi Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.663) Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Az-Zumar [39]:53)

Ayat diatas merupakan kebesaran Allah yang ditujukkan kepada orang-orang yang berbuat zalim agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan selalu mengharapkan ampunan serta kasih sayang-Nya.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa ber-muhasabah diri setiap saat. Aamiin. (Ust. Arie).